Home > Opini > Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu
imagecontent-php

Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu

Oleh Gatot Arifianto

Para pendiri bangsa telah mewariskan benih empat pilar kebangsaan terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan telah disemai puluhan tahun lalu. Persoalan hari ini, adalah bagaimana generasi bangsa Indonesia merawatnya sejalan dengan kehendak pendiri bangsa.

Generasi bangsa yang diharapkan memegang sila (aturan) dalam Pancasila hingga 2016 ini terbukti masih gagal, belum gemilang. Harapan untuk saling mencintai sesama manusia, tidak semena-mena terhadap orang lain, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan hingga gemar melakukan kegiatan kemanusiaan yang terkandung dalam “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” masih jauh panggang dari api dengan kemudahan menghujat di media sosial hingga susahnya Palang Merah Indonesia (PMI) memenuhi kebutuhan darah di negeri sendiri.

Persoalan lain di Indonesia hari ini adalah adanya kelompok yang ngotot, memaksakan kehendak, agar sesuatu yang beragam menjadi seragam. Padahal, Allah yang menurunkan 114 kalam, satu diantaranya Surat al-Baqarah yang dalam ayat 256 menyatakan: “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan”.

Allah juga telah menciptakan bangsa hingga manusia yang beragam. Termasuk Indonesia, yang memiliki keragaman budaya, suku hingga keyakinan.

“Pancasila ialah perekat kebangsaan. Bagaimana, tenggang rasa hingga saling menghormati terkandung di dalamnya. Saya pikir kita beruntung mempunyai Pancasila,” ujar Dewan Penasehat GP Ansor Way Kanan, Iskardo P Panggar.

Iskardo ialah dosen kewarganegaraan di salah satu perguruan tinggi di Way Kanan. Awal kali pertama memasuki satu ruang mengajar di kampus itu, ia memberi tugas mahasiwa untuk menulis Pancasila yang menurut KH A Wachid Hasyim merupakan kristalisasi ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Tapi tidak seratus persen mahasiswa bisa menyelesaikan tugas itu. Fakta tersebut tentu merupakan pekerjaan rumah bersama di zaman sekarang ketika informasi yang sebagian besar negatif, mudah sampai dan dikonsumsi generasi dan masyarakat bangsa,” ujar Iskardo yang juga Ketua KPU Way Kanan itu.

Lantas bagaimana upaya merawat kebhinekaan? Mahalkah biayanya? Perlukah rapat dengar pendapat di ruang paripurna terlebih dahulu agar harakah (gerakan) merawat kebhinekaan berjalan kontinu?

Krisis berpikir jernih adalah hambatan tercapainya revolusi mental diharapkan Pemerintah Republik Indonesia. Akibatnya, hal yang semestinya gampang dibuat jadi rempong. Gitu Aja Kok Repot, dalam bahasa Gus Dur Allahu yarham.

Mungkinkah Tax amnesty (pengampunan pajak) hingga upaya lain akan membuat negara ini terbebas dari belenggu defisit? Jawaban tegas dan masuk akalnya “tidak”, selama orientasi harakah adalah anggaran, bukan tujuan.

Merawat Kebhinekaan

“Indonesia merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatmu. Indonesia debar jantungku, denyut nadiku, berpadu dalam cita-citaku”. Senandung itu meluncur dari mulut dua puluh pelajar SMK Kesehatan Cahaya Dharma, Baradatu, Way Kanan, Lampung sembari melambaikan bendera merah putih dari tangan mereka.

Lagu berjudul Kebyar-Kebyar karya Gombloh itu membuka Jagongan Ramik Ragom (ramai beragam) untuk memperingati Hari Toleransi Sedunia 16 November. Jagongan (duduk bersama) tersebut mendiskusi Media Sosial Media Perdamaian, Rabu (16/11). Kenapa hari tersebut perlu diperingati dan toleransi harus dirawat? Pepatah bijak mengajarkan, mencegah lebih baik daripada mengobati, sayangnya hal tersebut belum dilakukan dengan baik.

Perbincangan mengenai kebhinekaan hanya disemai lagi ketika ada atau terjadi gesekan. Dan itu terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Maka tak heran ketika penyair dan budayawan Iman Budhi Santosa menyatakan: “Kita ini seperti rokok dalam etalase. Dekat, sejajar tapi tidak pernah bertegur sapa”. Padahal, merawat kebhinekaan adalah tanggung jawab bersama generasi dan masyarakat bangsa. Terlebih institusi yang berwenang.

“Penting memang untuk melakukan diskusi lintas iman tanpa menunggu ada sesuatu yang tidak diinginkan,” ujar pengajar SMK Kesehatan Cahaya Dharma, Rosalia Gia Purwani menjelang berlangsungnya acara.

Jagongan Ramik Ragom merupakan kegiatan Sakai Sambayan (gotong royong/kerjasama) Gusdurian Lampung, Pesantren Assidiqqiyah 11, DPD KNPI, KAHMI, Pemuda Muhammadiyah, Peradah, Pemuda Katolik, Pokjawan, SMAN 1 Baradatu, SMK Kesehatan Cahaya Darma, Yayasan Bakti, Karang Taruna, dan PAC GP Ansor Baradatu.

Selain Iskardo, sejumlah pemantik diskusi dalam kegiatan tersebut ialah Ketua DPD KNPI Andi Oktoviandi, Ketua Karang Taruna Sairul Sidik, Ketua Bidang Hukum Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Agus Zulkarnain.

Lalu aktivis Pemuda Muhammadiyah Nasrullah, Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) I Gede Klipz Darmaja, aktivis Pemuda Katholik dan anggota Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan) Andreas Natalis Sapta Aji.

Kegiatan juga diramaikan Nasyid Acapela dari SMAN 1 Baradatu dan pembacaan puisi Sajak Atas Nama karya Gus Mus oleh M Subhan santri Assidiqqiyah 11 tersebut diramaikan dengan foto mempromosikan perdamaian, kemanusiaan dan kebangsaan yang berisi kutipan-kutipan inspiratif yang bukan akidah agama dari sejumlah tokoh, yang bebas dipilih ketika hendak berpose.

Sejumlah pelajar SMK Kesehatan Cahaya Dharma yang mengenakan jilbab terlihat berpose dengan properti bertuliskan #BedaSetara #DamaiRamaiRamai #RamaiRamaiDamai yang memuat kutipan Bunda Teresa: “Buah dari perenungan adalah doa. Buah dari doa adalah iman. Buah dari iman adalah cinta. Buah dari cinta adalah pelayanan. Buah dari pelayanan adalah kedamaian.”

Aktivis Pemuda Muhammadiyah Way Kanan Nasrullah terlihat berpose dengan properti memuat kutipan inspiratif Gus Dur: “Kemajemukan harus bisa diterima tanpa ada perbedaan.”

Adapun aktivis Pemuda Khatolik Way Kanan Andreas Natalis Sapta Aji justru memilih berpose dengan properti yang memuat kutipan Sayyidina Ali: “Mereka yang bukan saudaramu seiman, saudaramu dalam kemanusiaan.”

Aji yang juga anggota Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan) Way Kanan itu juga berpose dengan properti yang memuat kalimat inspiratif dari KH Hasyim Asyari: “Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak bersebrangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama, dan keduanya saling menguatkan”.

Lantas anggota Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Way Kanan Dwi Handoko, memilih berpose dengan properti yang memuat kalimat inspiratif dari KH Ahmad Dahlan: “Kasih sayang dan toleransi ialah identitas umat Islam.” Termasuk dengan properti memuat kalimat inspiratif dari Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY): “Dalam mengekspresikan kebebasan, sandingkanlah dengan kepatuhan pada aturan hukum dan toleransi.”

“Bener ini,” ujar Rosalia ketika membaca kutipan inspiratif Dalai Lama XIX: “Dalam praktik toleransi, musuh seseorang merupakan guru terbaik”. Rosalia selanjutnya memperbincangkan mengenai toleransi dengan sejumlah guru di beberapa sekolah itu.

Properti murah dari kertas dan kardus bekas yang dirangkai Ketua Alumni Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Way Kanan 2015 Disisi Saidi Fatah tersebut memantik diskusi kecil mengenai toleransi para pembaca sebelum acara berlangsung.

“Komunikasi yang baik ialah tatap muka, tapi seiring kemajuan zaman, hal itu berkurang, tinggal bagaimana kita menyikapi penggunaan media sosial. Jadikan sarana itu untuk menyebarkan hal positif, membuat kebaikan dan jangan dijadikan sebagai media perpecahan,” ujar Andi Oktoviandi dalam diksusi tersebut.

Indonesia ada karena perbedaan, ujar Sairul Sidik menambahkan. Perbedaanlah yang memperkuat toleransi. Namun demikian, keyakinan tidak boleh dirambah.

“Tidak boleh saya menafsirkan keyakinan Bung Klipz atau Bung Aji. Dalam konteks keyakinan, agamamu agamamu, agamaku agamaku, lu lu gue gue,” katanya.

Media sosial harus digunakan dengan bijak. “Sebagai intelektual, kita harus membaca dulu sampai habis informasi yang didapat. Jangan langsung dibagikan dan disebarkan. Mudah-mudahan kita semua memiliki semangat membaca yang luar biasa sehingga kita tahu bahwa itu harus disebarkan atau harus disembunyikan atau malah harus segera di hapus,” ujar Klipz memotivasi pelajar.

Pada kegiatan yang dihadiri Camat Baradatu Ari Anthony Thamrin, kader PMII, IPNU, Muslimat, Fatayat, Karang Taruna, GP Ansor, sejumlah pelajar dan pengajar dari beberapa sekolah setempat dengan moderator Ketua PC Fatayat NU Rosmalia Resma itu, Iskardo selanjutnya mengajak pelajar yang hadir untuk menjadi generasi yang dahsyat.

“Bukan generasi alay yang pintar update status OTW, lagi bête. Indonesia membutuhkan generasi dahsyat. Jadikan media sosial sebagai ruang berekspresi positif, untuk merawat kebhinekaan dan Indonesia,” ujar Iskardo.

Gusdurian Lampung sebagai kolaborator dalam kegiatan dimulai pukul 13.15 WIB tersebut mengeluarkan dana Rp100 ribu untuk membeli dua dus air mineral dan roti. 16.15 WIB, dan acara diakhiri dengan doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya. Murah, meriah dan memantik sejumlah pelajar untuk melakukan kegiatan serupa beberapa bulan mendatang. Jadi, mahalkah untuk merawat kebhinekaan?

 
Penulis founder Halal (Hijamah Sambil Beramal). Bergiat di Gerakan Pemuda Ansor, Gusdurian, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Jaringan Islam Anti Diskriminasi dan program filantropi edukasi Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN).

About Anisa Yuliani

Anisa Yuliani

Mungkin Anda Suka

imagecontent-php

Kisah Banser Riyanto Meninggal Demi Kemanusiaan

Oleh Sularno Menot  Saat itu malam Natal, tepatnya tanggal 24 Desember tahun 2000 silam. Bersama …

Tinggalkan Balasan