Home > Berita > Apel Kebhinekaan, Wujud Nyata Menjaga dan Memelihara Kerukunan
4

Apel Kebhinekaan, Wujud Nyata Menjaga dan Memelihara Kerukunan

Way Kanan, Aktivisi – Bangsa Indonesia terdiri atas lebih dari 300 suku, agama, ras, golongan, bahasa serta budaya yang telah terbentuk menjadi satu kesatuan yang utuh yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang membentang dari Sabang sampai Merauke.

Keragaman tersebut berdiri tegak dalam lingkaran persamaan, dibawah naungan bendera merah putih, satu lagu kebangsaan Indonesia raya, satu bahasa yakni bahasa Indonesia, satu lambang negara yakni burung garuda yang memiliki azas Pancasila dan dipandu dengan seuntai kalimat bermakna agung “Bhineka Tunggal Ika” sebagai motto nya.
Demikian disampaikan Bupati Way Kanan Raden Adipati Surya pada apel kebhinekaan cinta damai yang dilaksanakan di halaman kantor bupati setempat guna memperingati Hari Toleransi Internasional, Rabu (16/11).

Adipati mengatakan, apel tersebut merupakan wujud nyata dalam upaya menjaga dan memelihara kerukunan antar umat beragama, adat istiadat serta budaya dan bahasa, dimana keanekaragaman tersebut tidak menjadi penghalang bahkan dianggap sebagai kekayaan bangsa Indonesia.
“Hat itu diwujudkan di dalam semboyan nasional Indonesia “Bhineka Tunggal Ika” seperti yang terdapat dalam lambang Negara Indonesia,” kata dia di Blambangan Umpu, Rabu (16/11).

Jika merujuk pada asensi atau inti dari motto “Bhineka Tunggal Ika” hakekatnya mengandung nilai-nilai nasionalisme, yaitu persatuan, kesatuan, serta kebersamaan untuk satu niat dan tujuan yang terjalin erat oleh rasa persaudaraan.
“Sudah tentu, keragaman yang terikat dalam Bhineka Tunggal Ika adalah aset yang paling berharga bagi bangsa Indonesia yang mewujudkan cita-cita luhurnya, yakni menata dan membangun bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang bermartabat yang mampu berdiri sendiri: adil, makmur, damai dan sentosa,” ujarnya lagi.

Perbedaan kelompok, demikian Raden Adipati Surya, pendapat serta pemikiran yang disebut keragaman dalam demokrasi Indonesia, bisa menjadi penyakit mematikan yang merongrong bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita luhur nya dan akan menjadi bumerang yang memalukan bagi paham serta demokrasinya, jika perbedaan atau keragaman telah saling berbenturan dan tidak lagi mempriorotaskan kepentingan serta tujuan bersama yang dilandasi oleh rasa persaudaraan, seperti yang terkandung dalam Bhineka Tunggal Ika.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau dimana setiap daerah memiliki adat-istiadat, bahasa, aturan, kebiasaan dan lain-lain yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya tanpa adanya sikap untuk menjaga Bhineka Tunggal Ika pastinya akan terjadi berbagai kekacauan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Bila hal ini terjadi, pasti nya negara kita akan terpecah belah,” tuturnya.

Oleh sebab itu, Bhineka Tunggal Ika, harus dijaga dengan sebaik-baiknya agar kesatuan bangsa dan negara Indonesia tetap terjaga, dan kitapun haruslah sadar bahwa menyatukan bangsa ini memerlukan perjuangan yang panjang yang dilakukan oleh para pendahulu kita dalam menyatukan Wilayah Republik Indonesia menjadi negara kesatuan.

About Disisi Saidi Fatah

Alumni SMAN 1 Blambangan Umpu. Ketua Alumni Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) PC GP Ansor Way Kanan 2015. Hobi Membaca, Menulis, dan Mendengarkan Music. Pria kelahiran 27 September yang memiliki motto "Kejujuran adalah hal yang harus diutamakan dalam mengenban amanah".

Mungkin Anda Suka

IMG_20180626_083935

Jelang Konferwil IPNU Lampung, Sejumlah Kandidat Ketua Bermunculan

Jelang Konferensi Wilayah (Konferwil) IPNU Lampung yang akan digelar pertengahan tahun 2018 ini sejumlah nama …

Tinggalkan Balasan